Bu Titin dan Shalimar di Eco SchoolHari Jumat,6 September 2013, Gerakan Tunas Hijau Indonesia mengadakan Workshop I yang bertempat  di SMP Negeri 11 Surabaya dengan merangkul sekolah – sekolah yang ada di seluruh kota Surabaya. Workshop I itu dinamai “Surabaya Eco School 2013”. Salah satu sekolah yang menjadi peserta saat itu adalah SMP Muhammadiyah 11. Syarat undangan acara workshop tersebut mewajibkan untuk mengirim seorang guru (Bu Titin) dan seorang siswa (Shalimar kelas 8-E). Surabaya Eco School 2013 sangat bagus, karena di sana mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, keberanian berpendapat di muka umum bagi siswa, dan kebersamaan dalam menyelesaikan masalah antara guru dan siswa, sehingga memperlihatkan keakraban.

Siswa SMP sudah dilatih olah sampahTiap wakil sekolah ( guru dan siswa) membuat program untuk sekolahnya masing – masing mengenai konservasi lingkungan. Setelah membuat program, peserta diajak keluar ruangan workshop untuk menyaksikan hasil kerja nyata dari Gerakan Tunas Hijau Indonesia dengan sekolah yang sudah ditunjuk menjadi sekolah percontohan yang telah melaksanakan penghijauan di lingkungan sekolahnya ( SMP Negeri 11 ).

Hasil kerja nyata dari Gerakan Tunas Hijau Indonesia itu seperti pengolahan kompos, pembuatan biopori, dan pupuk dari daun – daun kering yang berjatuhan dari pohon – pohon yang ditanam sekitar sekolah yang berlahan luas itu, serta peternakan ikan lele. Seluruh peserta diajak keliling lokasi observasi dengan didampingi oleh pemandu dari pihak Gerakan Hijau Indonesia. Tempat pertama yang dikunjungi adalah tempat pembuatan kompos.

Tim dari SMPN 11 menjelaskanDi sana seluruh peserta memperhatikan dengan serius, mulai pengumpulan bahan (sisa – sisa makanan dan potongan–potongan sayuran) dari kantin setempat, pencampuran bahan, sampai kompos jadi dan siap dipanen. Proses pembuatan kompos itu memakan waktu sekitar kurang lebih satu bulanan. Pembuatan kompos tersebut diperagakan oleh para siswa – siswi SMP Negeri 11 dan guru biologinya. Meskipun melakukannya dengan menutup hidung karena bau busuk  yang sangat menyengat, namun mereka menjelaskannya tetap penuh antusias dan sabar dalam menjawab semua pertanyaan – pertanyaan dari peserta workshop.

Karena rasa penasarannya, beberapa murid dan guru yang menjadi peserta workshop Surabaya Eco School tidak hanya mendengarkan dan melihat saja, tetapi ada yang langsung ikut – ikutan praktek mengaduk – ngaduk kompos yang sudah jadi meski masih basah. Setelah dari pembuatan kompos, peserta diarahkan ke tempat lahan penyerapan air (Biopori). Pemandu dari Tunas Hijau menjelaskan tujuan dan manfaaat dari biopori, peserta memperhatikan dengan seksama. Kami diberi kesempatan untuk mempraktekkannnya.

Sampah DaunSelanjutnya peserta beralih ketempat pembuatan pupuk dari daun – daun kering yang berjatuhan dari pohon – pohon yang ada di sekitar gedung megah itu. Guru dan para siswa SMP Negeri 11 mempraktekkan pembuatan kompos tersebut. Daun – daun kering itu di masukkan kedalam tong – tong yang dilubangi dan diberi pipa untuk keluarnya udara. Setelah tong itu penuh dengan sampah kering, lalu disiram dengan air leri (bekas air cucian beras),selanjutnya tunggu sampai sampah itu hancur. Setelah daun – daun hancur, kemudian dikeluarkan dari dalam tong untuk dijemur sekitar tiga jaman. Berikutnya diayak untuk diambil yang halus dan langsung bisa digunakan sebagai pupuk.

Observasi kolam leleMana lelenya pak...Tidak hanya itu, peserta juga ditunjukkan tempat peternakan ikan lele. Cuaca panas yang sangat menyengat tidak mengurangi semangat para peserta untuk  mengetahui lebih jauh tenteng pemeliharaan ikan lele. Beberapa siswi dari SMP Negeri 11 menjelaskan kepada kami yang mengajukan beberapa pertanyaan. Inilah sekilas cuplikan dialog kami yang dibumbui dengan sendau gurau…..

Peserta  I :  “Mbak, mana ilkan lelenya, kok gak ada?”

Siswi      I   :  “Ada di dalam air ini Pak?”

                      “Mereka akan muncul kalau diobok – obok begini Pak?”

Peserta  II  : “Makanan ikan lelenya apa Mbak?”

Siswi II     : “ya…makanan  ikan, Bu?”

Peserta II   : ”Maaf ya….Mbak, tapi, makanannya bukan yang dari sanakan, he..he..he..?”

                    (sambil menunjuk tempat pembuangan kotoran (WC) )

Peserta I    : “Iya, Bu, tadi saya juga ingin menanyakan hal sama, ha….ha….ha…?”

Siswi I dan Siswi II : “ Enggak lha Pak…Bu….?”

Peserta II     : “Sudah pernah panen gak, Mbak?”

Siswi I         :”Sudah tiga kali, Pak…Bu….?”

Peserta II     :”Dalam waktu berapa lama bisa panen tiga kali itu?”

Siswi II       :”Kami memelihara ikan lele ini baru delapan bulan, Bu?”

Peserta II    :”Oh….ya sudah Mbak, terima kasih ya…atas penjelasannya?

Mencoba tes olah sampah jadi cairan nuklirSetelah kami para peserta puas keliling menyaksikan hasil kerja dari Tunas Hijau Indonesia dengan SMP Negeri 11, kami diajak kembali ke dalam ruangan workshop. Di ruang workshop peserta diberi waktu istirahat. Setelah waktu istirahat berakhir, para siswa perwakilan dari sekolah masing – masing diperintahkan untuk membuat berita dengan rumus 5 W + 1 H tentang kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya, dan langsung dikirim ke face booknya Tunas Hijau Indonesia. Setelah berita dari siswa SMP Muhammadiyah 11 diterima dengan urutan kedua dan dibahas secara tuntas.

Karena tidak ada lagi yang masuk beritanya, acara pun ditutup dengan bacaan Alhamdulillah….. dan kembalilah seluruh peserta dengan ilmu yang didapat  dan ……. S E L A M A T ….mempraktekkannya di sekolah masing – masing.

GALLERY PHOTO :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s